Selamat Datang, Miyabi

Jumat, 09 Oktober 2009

Begitulah. Begitu mendengar kabar tentang kedatangan Miyabi (siapa sih yang tidak kenal, hingga MUI saja tahu), sontak segera menjadi kontroversi. Entah kenapa, kita menjadi sok suci. Seakan Miyabi alias Maria Ozawa tidak pantas untuk datang di Indonesia, negeri yang ber-Pancasila dan ber-Ketuhanan yang Maha Esa itu.

Padahal sesungguhnya mungkin kita juga penggemar Miyabi. Setidaknya secara diam-diam. Barangkali memang benar, Indonesia adalah negara yang agamis. Tapi lihatlah pornografi merebak di mana-mana. Generasi muda menjadi pecandu seks dan dengan bangga memamerkan video pendeknya di situs-situs panas. Barangkali Miyabi memang bejat, tapi bukanlah kita malah lebih buruk lagi. Sebab kita munafik. Miyabi memang jalang, tapi setidaknya jujur.

Maria Ozawa atau Miyabi masih muda. Dia dilahirkan di Hokkaido, Jepang pada 8 Januari 1986. Miyabi yang memiliki ras campuran, ibunya adalah orang Jepang dan ayahnya orang Kanada Perancis. Dia mengalami pengalaman seksual pertamanya pada usia 13 tahun.

Namanya dikenal sebagai salah satu AV Idol (Adult Video Idol) yang mulai muncul sekitar tahun 2005. Sejak saat itu ia sudah membintangi lebih dari lima puluh video porno produksi Jepang, belum termasuk beberapa video kompilasi yang juga mencantumkan namanya.

Meski keluarganya tak menyetujui karir yang dijalaninya namun cewek ini tetap merasa bangga dengan apa yang ia kerjakan dan hidup layak dari penghasilannya sebagai bintang porno. Dalam satu bulan Miyabi bisa menghasilkan sekurangnya US$8 ribu dan ia mampu tinggal di apartemen mewah hanya dari penghasilan itu.

Selalu begitu, kita masih saja sibuk berwacana.

Read more...

Berawal dari Facebook Baruku

Jumat, 02 Oktober 2009

Aku tidak suka facebook. Bagiku hanyalah pekerjaan sia-sia duduk di depan computer berjam-jam hanya untuk menuliskan beberapa kata-kata tak berguna. Atau menuliskan komentar pada status teman yang sia-sia. Tentang blackberry terbarunya yang canggih. Atau tentang kucingnya yang lucu. Atau bagaimana dia tadi siang dimarahi Sang Boss gara-gara terlambat masuk kantor karena terjebak kemacetan lalu lintas.

Aku tidak suka facebook. Di depan computer aku lebih asyik mencari trik-trik tentang cara menghasilkan uang atau kaya secara tiba-tiba, meski kemudian dengan naifnya harus kuakui bahwa semua itu bullshit. Atau mencari-cari video pendek terbaru anak SMA local yang sedang heboh. Atau mencari lagu-lagu lama, sambil teringat saat masih kecil, saat berkhayal ingin cepat besar dan berpacaran.

Tapi di siang itu sebuah nomor baru muncul di layer hp-ku. Nomor yang tidak terdapat di dalam phonebook-ku. Di siang yang menganggur (bukankah bagi PNS selalu lebih banyak waktu untuk menganggur?) itu dia adalah teman lamaku. Teman SMP yang sekian puluh tahun tidak begitu. Dulu dia begitu gemuk, “Kamu tidak punya akun facebook?”

Lalu sore hari. Kutemukan 3 misscalled di hp saat aku keluar dari kamar mandi. Bukan dari kekasihku, tapi nomer baru. Sedang berpikir siapa, hp menyalak lagi. Suara wanita, bernada riang. Teman SMA. Sungguh ajaib hari ini, dua teman lamaku menghubungi aku. ”Susah sekali mencari nomer hp mu, mengapa kamu tidak bikin facebook?”

Tiba-tiba aku merasa menjadi orang yang ketinggalan jaman. Seperti orang yang primitif. Dari 40 orang teman sekelas SMP ku itu hanya aku dan Si Fulan yang tidak punya akun FB. Kalau Si Fulan mungkin masih bisa dimaklumi. Selepas lulus SMP di desaku yang terpencil (Pacitan adalah anak tiri Jawa Timur), dia tidak melanjutkan sekolah dan memilih menjadi sopir truk sambil sesekali menjadi makelar apa saja. Wajar kalau dia tidak tertarik memiliki akun FB.

Tiba-tiba facebook menjelma menjadi wabah. Dengan segera dia menular ke mana-mana. Orang menjadi minder hanya karena tidak punya akun facebook. HP terbaru, blackberry atau blackberry-blackberry-an segera menjadi laris hanya karena menyisipkan fitur fb-mobile. Di Sragen pemkot harus memutus akses FB pada jam kerja, karena para pegawainya kebanyakan asyik ber-facebook-an daripada bekerja. Menjelang pemilu FB digunakan untuk menggalang massa sekaligus menggalang kebencian bagi calon kandidat lawan. Berita di koran, seorang suami membunuh istrinya hanya karena si istri menulis ’single’ di statu perkawinan di facebooknya.

Juga seorang lelaki mengaku selingkuh setelah bertemu dengan mantan pacarnya di masa lampau gara-gara facebook.

Tiba-tiba facebook seperti menjadi agama baru.

Read more...